Cendekiawan Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas Wafat di Usia 94 Tahun

9 Maret 2026

Kembali ke Berita

Kuala Lumpur, 9 Maret 2026 — Dunia keilmuan Islam berduka atas wafatnya Royal Professor Tan Sri Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas, salah satu pemikir Muslim paling berpengaruh di era modern. Beliau meninggal dunia pada Ahad malam (8/3) di bulan Ramadan, dalam usia 94 tahun, setelah puluhan tahun mengabdikan diri dalam pengembangan pemikiran dan peradaban Islam.

Syed Muhammad Naquib al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Indonesia. Ia dikenal luas sebagai filsuf dan cendekiawan Muslim yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari teologi, filsafat, metafisika, sejarah peradaban Islam, hingga sastra. Pada 23 Oktober 2024, ia dianugerahi gelar Royal Professor of Islamic Education, menjadikannya salah satu tokoh istimewa dalam sejarah akademik Malaysia.

Sepanjang kariernya, al-Attas memainkan peran penting dalam pendirian dan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Ia merupakan pendiri sekaligus direktur International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC) yang berpusat di Kuala Lumpur. Gagasannya tentang “Islamisasi ilmu pengetahuan” menjadi rujukan penting di berbagai belahan dunia Muslim dan menginspirasi lahirnya gerakan-gerakan intelektual dan institusi pendidikan Islam kontemporer.

Al-Attas menulis lebih dari dua lusin karya ilmiah dalam bahasa Inggris dan Melayu. Di antara karya monumentalnya adalah Islam and Secularism dan Prolegomena to the Metaphysics of Islam, yang mengulas secara mendalam hubungan antara wahyu, akal, ilmu, dan peradaban. Melalui karya-karyanya, ia menegaskan kembali pentingnya adab, konsep ilmu yang benar, serta kedudukan manusia dalam pandangan hidup Islam.

Selain di ranah akademik, al-Attas juga berkontribusi dalam pembentukan lembaga-lembaga strategis di Malaysia, termasuk dalam fase awal pendirian universitas dan gerakan pemuda Islam. Pengaruh pemikirannya dirasakan luas oleh generasi intelektual Muslim, aktivis, dan pendidik di berbagai negara.

Salat jenazah diselenggarakan di Masjid al-Taqwa, Taman Tun Dr Ismail, sebelum almarhum dimakamkan di Pemakaman Muslim Bukit Kiara. Sejumlah tokoh, termasuk pimpinan negara dan para pejabat tinggi, menyampaikan belasungkawa dan mengenang al-Attas sebagai salah satu pemikir Islam terbesar di zaman ini.

Kepergian Syed Muhammad Naquib al-Attas menjadi duka mendalam bagi dunia keilmuan Islam. Doa dan penghormatan mengiringi beliau, sementara karya dan gagasan yang ditinggalkannya akan terus menjadi sumber pelajaran dan inspirasi bagi generasi setelahnya.