Jangan Membentak Orang Tua

29 Maret 2026

Kembali ke Berita

Surah Al-Isra: Ayat 23-25 (Makna dan Refleksi)

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemahan: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Ujian Ketika Mereka Menua "di Sisimu"

Ayat ini bukan sekadar membahas hak-hak orang tua secara umum. Ayat ini secara spesifik menyoroti hak mereka ketika mereka mulai sulit dihadapi, yaitu saat mereka mencapai usia senja. Frasa kuncinya adalah إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ (jika mereka sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu). Perhatikan penekanan pada kata عِندَكَ (di sisimu) — di tengah-tengahmu, di bawah atapmu, bersama dirimu.

Ketika orang tua menua di kota atau negara yang berbeda, situasinya cenderung lebih mudah dikelola. Mengapa? Karena saat obrolan mulai memanas, selalu ada jalan keluar. Alasan sinyal buruk, ada tamu di depan pintu, selalu ada alasan untuk menghindar. Namun, ketika mereka tinggal bersamamu atau di sebelah rumahmu, ketika mereka melihat mobilmu terparkir dan tahu kamu ada di rumah, ketika mereka mengetuk pintumu dan bertanya mengapa kamu tidak berkunjung kemarin, atau mengomentari caramu mengurus rumah dan mendidik anak — tidak ada jalan keluar dari momen-momen yang menguji kesabaran ini.

Seiring bertambahnya usia, orang tua seolah memiliki kemampuan luar biasa untuk memancing emosi kita. Mereka tahu persis apa yang bisa membuat kita kesal, dan terkadang mereka melakukannya tanpa berpikir panjang. Dinamikanya pun berbeda:

  • Ibu: Saat suasana hatinya sedang buruk, situasinya bisa sangat intens — bahkan ayah pun mungkin akan memilih pergi keluar rumah daripada berdebat.
  • Ayah dan Ibu bersatu: Ini adalah skenario terberat. Ayah mungkin akan berkata, "Ibumu benar. Dengarkan dia. Aku tidak dengar apa yang dia katakan, tapi pokoknya dengarkan ibumu."

Realitas Kehidupan Modern dan Jarak yang Tercipta

Gaya hidup modern memperumit tantangan ini. Kita menjadi mandiri di usia yang lebih muda, sebuah efek samping dari budaya individualisme. Kita menginginkan kamar sendiri, teman sendiri, dan ruang pribadi. Kita menciptakan batasan: "Ini kamarku, ini barangku, jangan disentuh." Dan orang pertama yang sering kali mulai disingkirkan oleh anak-anak dari ruang lingkup mereka adalah orang tua. Teman-teman perlahan menggantikan posisi penting mereka.

Semakin kita jarang berbicara dengan orang tua, semakin kita meyakinkan diri bahwa mereka tidak memahami kita. Seiring bertambahnya usia, kita berasumsi, "Mereka tidak akan mengerti." Di sisi lain, orang tua mengartikan sikap diam ini sebagai bentuk rasa tidak hormat. Mereka berpikir, "Dia tidak pernah bicara padaku. Dia pikir aku tidak berharga. Dia merasa paling tahu segalanya dan aku tidak tahu apa-apa."

Kekecewaan ini menumpuk di hati mereka. Mereka akan bernostalgia, "Dulu aku yang mengganti popokmu. Aku menggendongmu, kurang tidur semalaman membawamu ke dokter. Kamu menendangku saat tidur dan aku tetap mengusapmu sampai terlelap. Sekarang kamu memperlakukanku seperti ini?"

Semua rasa frustrasi yang menumpuk itu akhirnya meledak ketika kamu menyempatkan diri menjenguk mereka sebulan sekali. Kamu merasa sudah berbuat baik dengan datang berkunjung, namun malah disambut dengan ledakan emosi. Akhirnya, kamu membanting pintu dan pergi, berpikir bahwa menghadapi mereka adalah hal yang mustahil.

Kita harus memperbaiki hubungan ini. Ini adalah prioritas, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Butuh usaha sadar untuk meluangkan waktu, menelepon, berkunjung, dan melepaskan sejenak urusan lain demi mereka.

Menelan Ego dan Mengendalikan Lisan

Apakah kamu akan mendengar hal-hal yang membuatmu jengkel dari mereka? Tentu saja. Allah menyebutkan dalam Surah An-Nahl tentang usia senja, bagaimana seseorang yang tadinya banyak tahu bisa mencapai titik di mana mereka kembali tidak tahu apa-apa.

Bayangkan ayahmu menyodorkan ponsel atau komputer dan berkata, "Bapak sudah pencet-pencet, kok tidak bisa?" Di dalam hati kamu mungkin bergumam, "Kenapa hal sesederhana ini saja tidak tahu?" Tapi kamu harus menelan rasa frustrasi itu dan berkata, "Sini Pak, coba aku bantu." Lalu dia mungkin merespons, "Ah, kamu juga tidak tahu apa-apa."

Pada titik itu, apa yang kamu lakukan? Kamu harus merespons dengan kerendahan hati: "Iya Pak, aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi biarkan aku coba dulu, ya?" Jika dia bilang kamu hanya akan merusaknya, kamu jawab, "Maafkan aku kalau nanti malah rusak. Kita perbaiki sama-sama ya."

Dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk menjaga nada bicara alih-alih membentak: "Sudahlah! Cuma tinggal klik kirim saja kok susah sekali!" Ujian ini datang kepada kita semua, tidak peduli seberapa tinggi ilmu, jabatan, atau status sosial kita.

  • Makna أُفٍّ (Ah / Uff): Berasal dari kata yang merujuk pada kotoran atau sesuatu yang menjijikkan. Ini berevolusi menjadi ekspresi rasa frustrasi, muak, dan tidak suka. Kadang bukan berupa kata, melainkan sekadar helaan napas panjang atau putaran bola mata. Bentuk apa pun itu, jangan pernah mengekspresikan rasa muak atau marah kepada mereka.
  • Makna وَلَا تَنْهَرْهُمَا (Jangan Membentak): Kata nahar berasal dari akar kata yang berarti menyiramkan air dengan keras ke wajah. Berteriak atau membentak digambarkan seperti ini karena bagi yang menerimanya, rasanya seperti ditampar atau disiram air secara paksa. Jangan membentak, jangan tinggikan suara, jangan melawan, dan jangan kehilangan kendali di depan mereka.
  • وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (Ucapkan Perkataan yang Mulia): Bicaralah kepada mereka dengan anggun, mulia, dan tunjukkan rasa hormat yang tertinggi.

Ayat 24: Menurunkan Sayap Kerendahan Hati

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Terjemahan: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."

Makna Analogi Burung dan Tiga Lapis Rahmat

Allah menggunakan bahasa yang sangat mendalam. Seekor burung memiliki kemampuan untuk terbang. Saat merentangkan sayapnya, ia bersiap untuk lepas landas. Namun saat ia menurunkan sayapnya, ia sedang berkata, "Aku akan mendarat." Meski ia memiliki kekuatan untuk terbang, ia memilih untuk tidak menggunakannya.

Ini bukan sekadar kerendahan hati biasa; ini adalah kerendahan hati di saat kamu memiliki kuasa untuk tidak merendah. Siapa pun bisa merendah saat mereka tidak punya kuasa (seperti saat ditilang polisi). Namun dengan orang tua, seiring bertambahnya usia, kamu mungkin berubah menjadi pencari nafkah. Kamu yang mengurus tagihan, kesehatan, pajak, dan keputusan keluarga. Kamu berada di posisi di mana kamu bisa saja berkata, "Kenapa Bapak/Ibu bicara seperti itu padaku? Aku yang membiayai semuanya."

Namun Allah memerintahkan: Turunkan sayapmu. Allah tahu kamu punya sayap (kekuasaan/kemandirian). Anggap saja kamu tidak memilikinya saat berhadapan dengan mereka. Kembalilah menjadi anak kecil berusia delapan tahun itu.

Frasa مِنَ ٱلرَّحْمَةِ (dengan penuh kasih sayang) memiliki tiga lapis makna:

  • Rasa iba: Tunjukkan kasih sayang karena mereka sudah menua dan melemah.
  • Membalas kebaikan: Tunjukkan kasih sayang karena mereka dulu menyayangimu saat kamu jauh lebih menjengkelkan dan menyusahkan daripada mereka saat ini. Perlu diingat, cinta seorang ibu adalah cinta tanpa syarat yang tak akan kamu temukan di mana pun. Ayah mungkin butuh usaha lebih untuk terkoneksi secara emosional, tapi ibu akan selalu mencintaimu, bahkan saat kamu berusia 90 tahun sekalipun.
  • Mencari Rahmat Allah: Jika kamu ingin mendapatkan limpahan rahmat dari Allah, maka kamu harus merendahkan diri di hadapan orang tuamu.

Kata khafadhal-janah (menurunkan sayap) juga menggambarkan seekor induk burung yang melebarkan sayapnya menutupi sarang saat ada ular mendekat. Ia rela digigit dan mati demi melindungi anak-anaknya yang tidak berdaya. Dalam Al-Quran, analogi ini dibalik: kini giliran sang anak yang membentangkan sayap perlindungan untuk orang tuanya yang telah menua.

Hal ini disempurnakan di akhir ayat: رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا. Kata Rabbayani bermakna memastikan pertumbuhan dan mengurus perkembangan. "Ya Allah, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah merawat dan memastikan pertumbuhanku saat aku kecil."

Ayat 25: Perjalanan Panjang untuk Kembali

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِى نُفُوسِكُمْ ۚ إِن تَكُونُوا۟ صَـٰلِحِينَ فَإِنَّهُۥ كَانَ لِلْأَوَّٰبِينَ غَفُورًا

Terjemahan: Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.

Terkadang, saat mendengar ayat-ayat ini, seseorang akan berkata: "Saya tahu Al-Quran berkata demikian, tapi kamu tidak tahu seperti apa ibuku. Dia sangat kasar. Aku tidak tahu harus berbuat apa." Allah menjawab keluh kesah ini langsung di ayat berikutnya: Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Allah sangat tahu situasimu dan seberapa berat ujianmu.

Kata أَوَّٰبِين (Awwabin) sangatlah kuat. Akar katanya bermakna seseorang yang kembali dari sebuah perjalanan panjang. Bayangkan kamu sudah mengemudi ratusan kilometer ke arah yang salah. Saat menyadarinya, kamu mungkin kelelahan dan berpikir, "Ah, sudahlah. Terlalu jauh untuk putar balik. Aku menetap di sini saja."

Seorang Awwab adalah seseorang yang sudah berjalan terlalu jauh ke dalam lembah dosa. Saat ia menoleh ke belakang, ia merasa jarak untuk kembali sudah terlalu jauh dan nyaris mustahil.

Namun Allah berkata: Bagi mereka yang mau memaksakan diri melakukan perjalanan panjang untuk kembali itu, Allah akan menjadi sangat pemaaf. Ini disebutkan secara khusus dalam konteks hubungan dengan orang tua. Kamu mungkin berpikir, "Sudah bertahun-tahun hubunganku dengan orang tua rusak. Semuanya sudah terlanjur hancur. Tidak ada yang bisa diperbaiki."

Allah menjawab: Aku tahu kamu sudah tersesat jauh. Tapi putarlah arah kemudimu, kembalilah, dan Aku beri kamu insentif — Aku akan mengampuni seluruh masa lalumu. Motivasimu bukan sekadar agar hubungan keluarga menjadi lebih baik, tetapi motivasi utamamu adalah agar Allah mengampuni semua kesalahanmu di masa lalu.